Mitos Seputar Gunung Bromo
Konon
saat dewa-dewa masih suka turun ke bumi, kerajaan Majapahit mengalami serangan
dari berbagai daerah. Penduduk bingung mencari tempat pengungsian, demikian
juga dengan dewa-dewa. Pada saat itulah dewa mulai pergi menuju ke sebuah
tempat, disekitar Gunung Bromo.
Gunung Bromo masih tenang,
tegak diselimuti kabut putih. Dewa-dewa yang mendatangi tempat di sekitar Gunung
Bromo, bersemayam di lereng Gunung Pananjakan. Di tempat itulah dapat terlihat
matahari terbit dari Timur dan terbenam di sebelah Barat.
Di
sekitar Gunung Pananjakan, tempat
dewa-dewa bersemayam, terdapat pula tempat pertapa. Pertapa tersebut kerjanya
tiap hari hanyalah memuja dan mengheningkan cipta. Suatu ketika hari yang
berbahagia, istri itu melahirkan seorang anak laki-laki. Wajahnya tampan,
cahayanya terang, dan merupakan anak yang lahir dari titisan jiwa yang suci.
Sejak dilahirkan, anak tersebut menampakkan kesehatan dan kekuatan yang luar
biasa. Saat ia lahir, anak pertapa tersebut sudah dapat berteriak. Genggaman
tangannya sangat erat, tendangan kakinya pun kuat dan tidak seperti anak-anak
lain. Bayi tersebut dinamai Joko Seger, yang artinya Joko yang sehat dan kuat.

